Dakwah dalam Al Quran dan Metodenya

Dakwah (Arab: دعوة‎, da‘wah; "ajakan") adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak (ajakan ke jalan Tuhan (Allah SWT) dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.

Silakan klik BUKA untuk melihat
Dikutip dari www.hasmi.org - Secara bahasa, kata dakwah sebagai bentuk mashdar dari kata da’a (fi’il madhi) dan yad’u (fi’il mudhari’) yang artinya memanggil (to call), mengundang (to invite), mengajak (to summer), menyeru (to propo), mendorong (to urge) dan memohon (to pray) (Warson Munawir, 1994:439). Da’wah dalam pengertian ini dapat dijumpai dalam Al Qur’an yaitu pada surat Yusuf :33 dan Surat Yunus:25.

Secara istilah, dakwah bermakna ajakan untuk memahami, mempercayai (mengimani), dan mengamalkan ajaran Islam, juga mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran (amar ma'ruf nahyi munkar). Da’wah dimaknai dari aspek positif ajakan tersebut, yaitu ajakan kepada kebaikan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Silakan klik BUKA untuk melihat
Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata "Ilmu" dan kata "Islam", sehingga menjadi "Ilmu dakwah" dan Dakwah Islam" atau ad-dakwah al-Islamiyah.

Ilmu dakwah adalah suatu ilmu yang berisi cara-cara dan tuntunan untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti, menyetujui atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu. Orang yang menyampaikan dakwah disebut "da'i" sedangkan yang menjadi objek dakwah disebut "mad'u". Setiap Muslim yang menjalankan fungsi dakwah Islam adalah "da'i".

Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah. Nabi Muhammad S.A.W mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan. Dimulai dari istrinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu.


Ayat-Ayat Al-Quran berikut ini menunjukkan pengertian dakwah sebagai ajakan ke jalan Allah SWT (syariat Islam). Beberapa dari  ayat tersebut yaitu :

"Dan hendaklah ada dari kamu satu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung". [QS. Ali Imran [3]: 104].

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik". [QS. An-Nahl [16]: 125].

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim." [QS. as-Shaff [61]: 7]

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus." [QS al-Mukminun [23]: 73]

"Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang." [QS an-Nur [24]: 48] 

"Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." [QS an-Nur [24]: 51] 

"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran)." [QS Ali Imran [3]: 23] 

"Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melabihkan kamu atas segala umat." [QS al-Baqarah [2]: 122]

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". [QS. Fushshilat [41] :33].

"Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka ke (jalan) Rabb-mu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb". [QS. Al Qashshash [28] :87].

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah". [QS. Ali Imran [3] :110].

”Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada ter-masuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf [12]:108]

Dari ayat ini definisi da’wah di dalam Islam adalah sebagai kegiatan mengajak, mendorong dan memotivasi orang lain berdasarkan bashirah (ilmu yang benar) untuk meniti jalan Alloh subhanahu wata’ala serta berjuang bersama meninggikan agama-Nya. Kata mengajak, memotivasi, dan mendorong adalah kegiatan da’wah dalam ruang lingkup tabligh. Kata bashirah untuk menunjukan da’wah itu harus dengan ilmu dan perencanaan yang baik.


Kalimat meniti jalan Alloh untuk menunjukan tujuan da’wah yaitu mardhatillah. Kalimat istiqamah dijalan-Nya untuk menunjukkan da’wah itu harus berkesinambungan. Sedangkan kalimat berjuang bersama meninggikan agama Alloh untuk menunjukan da’wah bukan untuk menciptakan kesolehan pribadi saja tetapi juga terbentuknya masyarakat islami. Untuk mewujudkan masyarakat yang islami tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus bersama-sama (jama’i).
 

Maka dengan itu pengertian da’wah dapat disimpulkan dengan pengertian-pengertian sebagai berikut:


Silakan klik BUKA untuk melihat

  1. Da’wah adalah suatu aktifitas atau kegiatan yang bersifat menyeru atau mengajak orang lain untuk mengamalkan ajaran Islam.
  2. Da’wah adalah suatu proses penyampaian ajaran Islam yang dilakukan secara sadar dan sengaja.
  3. Da’wah adalah suatu aktivitas yang pelaksanaannya bisa dilakukan dengan berbagai cara atau metode yang halal.
  4. Da’wah adalah kegiatan yang direncanakan dengan tujuan mencari kebahagiaan hidup dunia dan akhirat dengan dasar keridhoan Alloh .
  5. Da’wah adalah usaha peningkatan pemahaman keagamaan yang mengubah pandangan hidup, sikap batin dan prilaku umat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam menjadi sesuai dengan tuntunan syari’at untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Metode Dakwah

Metode atau cara dakwah juga tergambar dalam ayat di atas, yakni dalam QS. An-Nahl:125, yaitu dengan (1) hikmah, (2) pelajaran yang baik, dan (3) bantahlah (argumentasi) yang lebih baik.

Dari ayat ini kemudian para ulama memberikan tafsiran dan pengembangan tentang metode dakwah sebagai berikut:

Silakan klik BUKA untuk melihat
Dakwah fardiah

Dakwah Fardiah merupakan metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya dakwah fardiah terjadi tanpa persiapan yang matang dan tersusun secara tertib. Termasuk kategori dakwah seperti ini adalah menasihati teman sekerja, teguran, anjuran memberi contoh. Termasuk dalam hal ini pada saat mengunjungi orang sakit, pada waktu ada acara tahniah (ucapan selamat), dan pada waktu upacara kelahiran (tasmiyah).

Dakwah ammah

Dakwah Ammah merupakan jenis dakwah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khotbah (pidato). Dakwah Ammah ini kalau ditinjau dari segi subjeknya, ada yang dilakukan oleh perorangan dan ada yang dilakukan oleh organisasi tertentu yang berkecimpung dalam soal-soal dakwah.

Dakwah bil-lisan


Dakwah jenis ini adalah penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subjek dan objek dakwah). dakwah jenis ini akan menjadi efektif bila: disampaikan berkaitan dengan hari ibadah seperti khutbah Jumat atau khutbah hari Raya, kajian yang disampaikan menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, disampaikan dengan metode dialog dengan hadirin.

Dakwah bil-Haal

Dakwah bil al-hal adalah dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah (al-Mad'ulah) mengikuti jejak dan hal ihwal si Da'i (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah.

Pada saat pertama kali rasulullah S.A.W tiba di kota Madinah, dia mencontohkan dakwah bil-haal ini dengan mendirikan Masjid Quba, dan mempersatukan kaum Anshor dan kaum Muhajirin dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.

Dakwah bit-tadwin

Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah bit at-tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif.

Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut dakwah bit-Tadwim ini rasulullah S.A.W bersabda, "Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada".

Dakwah bil hikmah

Dakwah bil hikmah yakni menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak objek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain dakwah bi al-hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasif.

Dalam kitab al-Hikmah fi ad-Dakwah Ilallah Ta'ala oleh Said bin Ali bin Wahif al-Qathani diuraikan lebih jelas tentang pengertian al-Hikmah, antara lain Menurut bahasa:

  •     Adil, ilmu, sabar, kenabian, Al-Qur'an dan Injil
  •     Memperbaiki (membuat manjadi lebih baik atau pas) dan terhindar dari kerusakan
  •     Ungkapan untuk mengetahui sesuatu yang utama dengan ilmu yang utama
  •     Obyek kebenaran (al-haq) yang didapat melalui ilmu dan akal
  •     Pengetahuan atau ma'rifat.
Menurut istilah Syar'i:

  •     Valid dalam perkataan dan perbuatan, mengetahui yang benar dan mengamalkannya, wara' dalam dinullah, meletakkan sesuatu pada tempatnya dan menjawab dengan tegas dan tepat.

Kalimat  Dakwah dalam ayat-ayat yang tadi disebutkan dimaknai dengan “menyeru”  bukan “menyuruh”. Dakwah itu “mengajak” bukan “mengejak”.  Perbedaan menyeru dengan menyuruh dapat kita lihat contohnya  pada  lafazd azan yaitu “Hayya ‘alashalaah (mari shalat), Hayya ‘alal falaah (mari menuju kemenangan)”. Pada lafazd azan tersebut kita dapat melihat seruan, seruan agar kita melaksanakan  shalat,  secara halus menunjukkan perintah, karena bahasa yang halus tidak terasa kalo hal tersebut memerintahkan kepada kita bahwa waktu shalat sudah tiba, berarti kita sudah wajib shalat, kemudian dibaeritahukan akan ada imbalan bagi yang melaksanakan shalat mendapatkan kemenangan.

Seruan itu diiringi dengan penjelasan, pendidikan sehingga  mencerdaskan siapa saja yang mendengar, sehingga orang mengikuti seruan tidak terpaksa, tapi dengan senang hati, karena ia telah mendapatkan penjelasan kenapa kita harus mengikuti seruan, akan ada imbalam berupa kemenangan. Mengikuti  seruan dalam hal ini dengan pengetahauan kemudian menumbuhkan pemahaman dan kesadaran, bukan paksaan. Karena itu wajib bagi seorang da’i mempunyai pengetahuan yang utuh tentang Islam, kaidah-kaidahnya,  agar ketika orang yg ingin kenal Islam melalui dirinya lebih  mendalam atau ingin mengenal Islam bagi yang belum kenal, dari penjelasan yang diberikan da’i, dari keteladannnya akan menampak bahwa Islam itu indah, Islam itu mudah, tapi tidak dimudah-mudahkan, Islam itu ringan tapi tidak diringan-ringankan.

Sedangkan menyuruh sering bisa kita lihat pada kalimat “pergi kamu sekarang!”, “tugas kamu, ini dan itu, karjakan ini, sekarang!”. Alangkah indahnya jika kalimah tersebut  diganti dengan kalimat seruan, “baiklah, kalian semua bisa berangkat sekarang, kalo tidak berangkat sekarang, nanti terlambat”, kalimat yang satu lagi bisa kita ganti dengan kalimat : “baiklah semuanya, kita berbagi tugas, dan  sudah bisa dikerjakan dari sekarang ya, mengingat waktu hanya 30 menit,” saya rasa kalimat model kedua tentu lebih enak di dengar dan lebih mudah diikuti, karena adanya penghargaan dan penjelasan yang jelas.

Pemahaman seperti ini penting untuk menghindari adanya kesan memaksa, karena kata Allah tidak ada paksaan dalam memeluk Islam. Firman Allah SWT: yang artinya: “Tidak ada paksaan dalam menganut agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada tagut,[1] dan beriman kepada Allah , maka sungguh dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat  yang tidak akan putus. Allah Maha mendengar dan Mengetahui.” Q.S Al Baqarah  ayat 256.

Untuk itu sangat  penting   bagi para da’i berhati-hati membawa diri, bersikap dan berucap, ketika  bermaksud mendakwahi sesorang, agar objek dakwah senang menerima ajakan sang da’i. Ada beberapa cara berdakwah yang Allah Swt sampaikan dalam al-Quran, cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:

Silakan klik BUKA untuk melihat
1. Keteladanan dari seorang da’i. Firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik”. Q.S. Al-Ahzab: 21. Seperti apa akhlak Rasulullah sehingga patut, layak diteladani. Aisyah ra, pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw, beliau berkata: “Akhlaknya adalah Al-Qur’an”.  cara ini dilakukan Rasul dengan memberi keteladanan kepada objek dakwah, dengan keindahan akhlaknya, tentang bagaimana beribadah, menjaga diri dan bagimana cara bermu’amalah dengan sesama muslim atau dengan yang bukan muslim. Rasulullah Memberi teladan bagaimana menjadi anak yang baik, ayah yang baik, suami yang baik, saudara yang baik, pemimpin yang baik, saudara yang baik.

2. Dengan lemah lembut. Sebagaiman Firman Allah SWT: Allah berfirman yang Artinya “ Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadapat mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”.  Q.S. Ali Imran ayat 159

3. Dakwah harus dengan bahasa yang dipahami. Firman Allah yang artinya: “Dan Kami Tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya[2], agar dia dapat memeberi penjelasan kepada mereka”. QS. Ibrahim: 4. Hal ini dapat dipahami bahwa ketika sesorang berdakwah dikalangan intelektual, bisa menggunakan bahasa-bahasa ilmiah. Ketika kita berdakwah di kalangan masyarakat yang tingkat pendidikannya lebih rendah baiknya menggunakan bahasa yang sederhana yang mudah mereka pahami. Kalo  menggunakan bahasa-bahasa ilmiah untuk mereka yang tingkat pengetahuannya rendah tentunya akan sulit bagi mereka untuk memahaminya. Dengan  demikian dapat menggunakan bahasa sesuai dengan objek yang hendak kita dakwahi.

4. Berbantahan dengan cara yang baik, firman Allah yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah,[3] dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Q.S An-Nahl ayat: 125.

5. Membalas kejahatan dengan kebaikan, firman Allah yang artinya: “Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)”. Q.S Ar Ra’du ayat: 22.

6. Memakai perumpamaan-perumpamaan dalam berdakwah. Firman Allah yang artinya: “ Dan sesungguhnya, telah kami buatkan dalam Al-Qur’an ini segala perumpamaan bagi manusia agar mereka mendapat pelajaran”. Q.S Az Zumar:27. Dalam  ayat lain Allah memberi contoh bagaiamana menjelaskan sesuatu dengan perumpamaan, dalam surat al baqarah ayat 261 yang artinya: ”perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”. Q.S Al-Baqarah: 261

7. Larangan memaki orang yang tidak beragama Islam. Firman Allah yang artinya: ”Dan janganlah kamu memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”. Q.S Al-An’am: 108

8. Dengan menunjukkan bukti nyata. Firman Allah yang artinya: sungguh, bukti-bukti yang nyata telah datang dari Tuhanmu, barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka dialah yang rugi”. Q.S Al-An’am: 104.  Sebagai  contoh dapat kita  lihat al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 50 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu sehingga kamu dapat Kami Selamatkan dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikut Fira’un, sedang kamu menyaksikannya”. Q.S Al-baqarah: 50. Kemudian  kita lihat surat Yunus yang menjelaskan  kelanjutan dari kisah Nabi Musa dan Raja Fira’un, bagaimana Allah menyelamatkan jasad Fir’aun agar dapat menjadi pelajaran dan bukti nyata tentang kebenaran al-Qur’an beserta isinya kepada semua orang sampai akhir zaman. Firman Allah yang  artinya: “maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu,[4] agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami”. Q.S Yunus: 92.

Baru- baru ini kita mendengar bahwa telah ditemukannya jasad  Ramses IX disebuah lembah diMesir dengan nama Lembah Raja, setelah diidentifikasi oleh para ahli, ternyata jasad tersebut adalah jasad fir’aun dalam kisah Nabi Musa as. Hal ini dapat menjadi  sebuah bukti nyata apa yang Allah sampaikan dalam al-Qur’an adalah benar adanya. Maka kisah ini dapat menjadi sebuah bukti untuk meyakini kebenaran Islam. Dan menambah keimanan seorang muslim kepada Allah dan kepercayaan terhadap al-Qur’an, yang tidak ada keraguan pada al-Qur’an itu sendiri.

9. Mempermudah jangan mempersulit. Artinya awali dakwah itu dari hal-hal yang mudah dan menyenangkan.  Kayak dalam hukum fiqh ada rukshah ada azimah. Azimahnya shalat wajib sehari semalam lima waktu, jika mushafir rukhsahnya menjadi 3 waktu dengan menjamak shalatnya.  Dhuhur dijamak dengan ashar, magrib dengan isya, subuh satu waktu. Azimahnya shalat wajib berdiri, namun jika sakit boleh sambil duduk, tidak sanggup duduk boleh berbaring. Azimahnya shalat wajib berwudhu, jika dalam keadaan sakit atau musafir rukshahnya boleh bertayamum dengan debu atau partikel debu yang menempel di salah satu tempat yang diyakini suci tidak bernajis.

10. Dengan hikmah dan nasehat yang baik. Firman Allah yang artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” Q.S. An-Nahl: 125. Hikmah diartikan kebijakan, kearifan, makna yang mendalam, makna yang terkandung dibalek suatu peristiwa.[5]  Penjelasan tentang hikmah dapat memudahkan dan menjadikan seseorang tertarik mendengar, bersemangat sesuatu yang disampaikan seorang da”i.

Dengan demikian antara lain ada sepuluh Pendekatan yang disampaikan dalam al-Qur’an dalam berdakwah yaitu keteladanan dari seorang da’i, dengan dengan lemah lembut, dakwah harus dengan bahasa yang dipahami, berbantahan dengan cara yang baik, membalas kejahatan dengan kebaikan ,memakai perumpamaan-perumpamaan dalam berdakwah , larangan memaki orang yang tidak beragama Islam ,dengan menunjukkan bukti nyata, mempermudah jangan mempersulit, hikmah dan nasehat yang baik

======
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Dakwah
http://www.risalahislam.com/2014/03/pengertian-dan-metode-dakwah-islam.html
http://www.hasmi.org/dawah-adalah-segalanya-2/
http://www.salimah.or.id/2016/dunia-perempuan/cara-cara-berdakwah-dalam-al-quran

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Dakwah dalam Al Quran dan Metodenya"

  1. Ingin Cari Kaos Dakwah Terbaik, Disini tempatnya:
    Tshirt Dakwah Quote

    Mau Cari Bacaan Traveling mengasikkan, disini tempatnya:
    Explore Indonesia

    BalasHapus